Minggu, 30 Juli 2017

When You Thought about Mental Health

Jadi hari kamis kemarin aku sempet sakit dan ga masuk kerja, sakitnya sih ga parah, tapi sepertinya aku memang butuh istirahat. Karena hari senin kemarin pun Jeni sempet nyaranin aku untuk ambil cuti buat istirahat.

Kenapa tiba-tiba Jeni saranin aku untuk ambil cuti? Karena PMS. IYA PMS! Jadi semenjak kerja, PMS aku termasuk yang agak ngeselin. Yha sakit fisik dan jiwa. Mood swingnya sungguh menguji keimanan. Bisa dari bahagia-bahagia aja tiba-tiba sedih hanya dalam hitungan menit, tanpa trigger apa pun selain OVERTHINKING.

Kalau ga salah hari minggu nya pun sempet baca berita viral tentang seorang karyawan di suatu perusahaan di luar negeri yang mengambil cuti demi memulihkan kesehatan mentalnya. Iya kesehatan mental guys. Karena sebetulnya kesehatan mental itu berefek ke mana-mana, ke fisik, ke kerjaan, keluarga dan masih banyak lagi. Tapi sayangnya memang kesadaran kita terhadap kesehatan mental sangat amat minim. Padahal 70-80% penyebab kesehatan fisik adalah faktor psikogis lho.


Back to cerita sakit-sakit aku. Jadi di hari kamis, aku bener-bener merasakan bahagia banget. Tidur ditemenin, makan disiapin plus disuapin, dan bisa tidur bebas, puas, ga mesti dikit-dikit kebangun ngecek udah jam berapa. Tapi ada saat-saat bosen juga sih, aku streamingan aja. Ahh bahagianya, sesuatu yang amat jarang bisa didapatkan di usia 25an apalagi kalau kalian bernasib sama seperti aku, pejuang subuh-isya, berangkat ba'da shubuh, pulang ba'da isya. MANTABS lah pokoknya.

Masih sangat amat tertarik dengan isu mental health/mental illness, apalagi akhir-akhir isu suicide semakin gila dan menjamur, akhirnya tontonan di saat "hari istirahat turfa" adalah TED TALK tentang isu-isu mental health/ mental illness. Pembicara nya mulai dari penderita mental health, si ibu penderita, dan para ahli/peneliti tentang mental health.

Yang bikin amaze banget adalah saat pembicaranya itu adalah seorang ibu yang anaknya menderita mental illness (lupa nama penyakitnya). Benar-benar dari sudut pandang yang ga pernah aku bayangkan. Ternyata kalau di dalam satu keluarga ada yang menderita mental illness, apalagi kalau yang udah parah, berefek ke semua anggota keluarga, dan terapinya untuk semua. Jadi si ibu ini, sebut saja Bu Hannah, saat tau anaknya menderita mental illness pasti syok banget dan merasa terguncang, curhatlah beliau ke blognya tapi pakai nama anonim. Ga lama postingannya viral, dan ada beberapa pihak yang menyarankan beliau untuk mempublikasikan identitas aslinya dengan alasan yang cukup masuk akal.

Alasannya adalah jika suatu kisah dikisahkan oleh seorang anonim, maka kisah tersebut hanya akan jadi cerita, tapi jika kisah itu dikisahkan oleh orang yang bernama Ibu Hannah, maka kisah itu milik Ibu Hannah dan benar-benar dialami oleh Ibu Hannah. Orang-orang akan menyadari bahwa kisah tersebut benar adanya dan sedang terjadi. Ya intinya gitu laah.

Oke lah Ibu Hannah setuju untuk mempublikasikan identitasnya. Tapi ada beberapa ketakutan, salah satunya adalah orang kantor tau dan beliau akan dipecat, sedangkan beliau sangat butuh asuransi kesehatan dari kantornya untuk pengobatan anaknya terssebut. Tapi akhirnya beliau memberanikan diri untuk tetap mempublikasikan identitasnya apapun konsekuensinya, demi kesadaran masyarakat tentang mental illness. Karena di amerika/eropa sana meskipun sudah lebih aware tentang mental health, tapi tetep aja belum banyak dukungan terhadap penderita mental illness, bahkan beberapa penderitanya berakhir di jeruji besi.

Setelah itu Ibu Hannah sering dapet curhatan dari sesama ibu yang anaknya menderita mental illness, sampai suatu hari ada seorang ibu yang yang telpon beliau, sebut saja Ibu Rossy. Ibu Rossy ini baru banget anaknya anaknya divonis menderita mental illness, terus beliau bilang kalau lebih baik anaknya divonis kanker daripada mental illness. Karena kalau anaknya divonis kanker, beliau pulang dari rumah sakit, cerita ke keluarga dan kerabat, banyak yang akan kasih dukungan, bahkan donasi. Tapi saat dia bilang anaknya menderita mental illness, ga ada yang peduli, justru cenderung dijauhi.

Nah ini dia yang sering menggelitik pikiran aku beberapa bulan terakhir. Kok kayaknya belum ada ya donasi buat penderita mental illness?? Atau aku nya yang belum tau. Tapi menurutku ini penting. Ga banyak asurasi kesehatan meng-cover pengobatan kejiwaan, semacam ke psikolog/psikiater, apalagi asuransi kesehatan nasional (BPJS). Padahal banyak jiwa yang ga tertolong karena mahalnya pengobatan kesehatan jiwa. Sering bukan kita denger cerita kalau di pelosok pedalaman sana banyak orang-orang dipasung keluarganya karena gangguan jiwa. Kenapa mereka dipasung? Karena mahalnya pengobatannya, karena keluarga dan masyarakat yang belum teredukasi mengenai mental health.

Berapa banyak kasus suicide belakangan ini terjadi? BANYAK. Konon katanya memang suicide itu menular, apalagi jika dilakukan oleh public figure. Yah selain itu karena orang di sekitar yang kurang peduli. Mereka belum teredukasi bagaimana cara menangani sahabat/keluarga yang menderita mental illness. Karena lagi-lagi 90% kasus suicide terjadi karena mental illness.

Setelah aku perhatikan ada 3 tipe cara orang-orang menangani orang terdekat yang menderita mental illness yang hampir mau memalukan percobaan bunuh diri. Pertama, tipe penceramah. Ini baik, baik banget bahkan. Tapi bukan saat seseorang mau bunuh diri. Ga guna! Iya, seseorang memutuskan untuk bunuh diri karena mereka sudah ga bisa berfikir logis. Bagaimana caranya mereka mau segera mengakhiri "penderitaan/rasa sakit" yang mereka rasakan. Semakin kita ceramahanin, semakin mereka menghindar dari kita, dan pada akhirnya kembali pada keputusan awal, BUNUH DIRI.

Kedua, tipe ga peduli bahkan menjauh. Dengan alasan ga mau mengurusi urusan orang lain. C'mon guys, ada yang mau bunuh diri lho! Masih berfikir itu bukan urusan kamu?

Ketiga, tipe pendengar. Karena terkadang mereka hanya butuh didengarkan keluh kesahnya. Lalu bantu dengan support. Dengan kata-kata yang mudah dipahami tapi mengena. Karena dalam keadaan seperti itu, sekali lagi, mereka sudah tidak berfikir logis lagi.

Yuk mulai peduli dengan kesehatan jiwa kita sendiri dan orang di sekitar kita. PEDULI, bukan hanya ingin tau, tapi mengulurkan bantuan, bahkan sedikit bantuan saja sudah sangat membantu.

Maaf untuk tulisan yang bertele-tele ini. Inilah hasil apa yang aku pikirkan beberapa bulan terakhir ini, apalagi setelah kasus suicide semakin merajalela. Semoga ga ada kasus-kasus suicede lagi setelah ini.

2 komentar: